Menu Utama
Home
Dari Meja Uskup
Sinode ke-1
Berita Sinode ke-2
Agenda Sinode ke-2
Opini Sinode ke-2
Panitia Sinode-2
Dokumen Sinode-2
Buku Tamu
Photo gallery
Visitors Counter
_TOTAL_VISITORS_14770
Kilasan Berita

  5    5     3   4 . 2 5 5  2  3 3   1  1  1  2   2 1  2 3  3 6 6  5

Yesus Kristus cahaya hatiku, jauhkanlah aku dari kegelapan 

 5     5     3   4   . 6 7  7  5 4  3   1  1  2   1  2 3    3  3   6

Yesus Kristus vahaya hatiku, biarlah kuambil cinta-Mu

 
Workshop Pembentukan Modul di Puri PDF Print E-mail
Written by Buletin Berkat   

Workshop Pembentukan Modul di Puri

Image 

Workshop Pembentukan Modul diselenggarakan di puri sadhana Pangkalpinang dari tanggal 2-5 September 2009. Peserta workshop adalah sebagian anggota komisi dan 3 fasilitator dari wilayah Bangka dan Belitung. Pemberi materi adalah Stella, Eppe dan Alleli dari Phillipina. Image

Tujuan dari workshop adalah melatih para peserta membuat dan fasilitas pembinaan modul yang relevan dengan budaya setempat , actual, dan obyektif untuk mencapai gereja partisipatif / cara menggereja yang baru sehingga bisa diterima dengan baik oleh umat setempat. Bagaimana mendesign modul pembinaan? Materi penunjang sebagai fasilitator adalah kemampuan komunikasi dalam group, menangani perbedaan pribadi-pribadi dan situasi, mendesign pertanyaan yang elegan.

 

ImageBeberapa hal untuk diperhatikan sebelum membuat program formasi bagi suatu kelompok yakni kepekaan budaya, keadaan psikologis, pesan inti, lokasi, umur, ide dari gereja, kelompok gabungan, bentuk-bentuk seminar yang sebelumnya, status ekonomi, jenis kelamin, jumlah peserta, sejarah yang penting. Demikian juga seorang fasilitator harus mengetahui 4 aturan yaitu 1) berakar pada sabda Allah. 2) menempatkan diri pada situasi dalam komunitas.  3) mempromisikan hidup komunitas dan misi, 4) SAKSI.

  Team fasilitator menganalisis situasi komunitas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada komunitas. Jawaban atas aneka pertanyaan, statement, persoalan dikategorikan menjadi beberapa kategori. Beberapa kategori tersebut dirumuskan menjadi sebuah tema. Tema-tema menjadi bahan dasar untuk dikembangkan menjadi bahan pertemuan. Bahan-bahan pertemuan dinamakan modul. Ada 3 bagian dalam pembuatan materi pertemuan yakni code, menyelesaikan persoalan dengan terang sabda, dan aksi bersama.

  Pertama, Code merupakan suatu yang mengangkat masalah, menangkap persoalan/keprihatinan/permasalahan dengan menggunakan bentuk-bentuk budaya seperti gambar, puisi, cerpen, drama, tarian, permainan dll. Berhubungan dengan para peserta dan akan membantu mereka untuk berfokus pada persoalan. Berdasarkan code, fasilitator membuat pertanyaan panduan yang akan membantu para peserta memahami apa yang sedang terjadi dibagian code. Bagian ini dinamakan decode. Pertanyaan yang akan membantu para peserta memahami mengapa hal tersebut terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang akan menghubungkan bagian code dengan kehidupan para peserta. Kedua, setelah fasilitator mengumpulkan jawaban, ia memilih teks dari firman tuhan yang cocok untuk persoalan/keprihatinan. Teks tersebut member terang baru atas persoalan. Peserta diberi waktu refleksi dan mensharingkan kepada rekan di samping kiri dan kanan atau mengulang beberapa kali. Dilanjutkan dengan pertanyaan panduan yang akan membantu para peserta memahami apa yang dikatakan teks ks dan memahami apa yang dikatakan tersebut  kepada para peserta mengenai persoalan yagn sedang dihadapi. Ketiga, tahap terakhir adalah menformulasikan pertanyaan yang akan memotivasi para peserta untuk bertindak praktis, konkrit , solusi yang dapat dilaksanakan. Ada aksi bersama komunitas.

ImageYang harus diingat dalam membuat modul: 1)kerjakan langkah-langkah awal dari pembuatan sesi kesadaran. 2) sediakan sebuah alur kepada persoalan-persoalan yang berbeda dari topic yang dipilih. Alur tersebut dapat menangani  aspek-aspek atau sudut-sudut yang berbeda dari topic tersebut atau menangani topic tersebut secara mendalam. 3) gunakan cara-cara yang berbeda dalam menampilkan code, fokus dari pengajaran dan cara berdoa.

Team juga memaparkan tentang 5 bentuk gereja, yakni bentuk gereja yang menyediakan, gereja para penolong, gereja yang sedang bangkit, gereja para pelayan, dan persekutuan komunitas. Para leader sekarang berada di paroki dengan model gereja keberapa? Apa visi kedepan sebagai seorang leader untuk gereja sehingga partisipasi pelayanan, luturgi, komunitas terjadi di semua, paroki, kapela, komunitas. Jika seorang pemimpin tidak mengenal situasi sekarang dan tidak mempunyai visi , situasi yang akan datang maka dia akan berputar di lingkaran yang sama. (Titus Budiyanto)

Last Updated ( Saturday, 10 October 2009 )
 
Next >