|
Written by Administrator
|
|
SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2008 (dibacakan pada hari Minggu Prapaskah III, 24 Februari 2007) (Bacaan Ekaristi: Kel. 17:3-7; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-15, 19b-26,39b) Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, dalam Minggu Pra paskah III ini kita akan bersama-sama akan mendalami Tema: “DOSA MENODAI KEUTUHAN CIPTAAN. Bacaan Kitab Suci yang akan menjadi inspirasi pendalaman kita nanti adalah Kejadian 3, 1-7. Ketidakutuhan, ketidakharmonisan seluruh Ciptaan Merupakan Buah dari Dosa Pada Minggu pertama, kita bersama-sama telah menemukan kembali betapa indah dan bahagianya kehidupan di taman Eden sebagai sebuah komunitas yang direncanakan dan diciptakan Allah. Kisah Penciptaan yang diceriterakan dalam Bab I Kitab Kejadian menunjukkan betapa harmonisnya hubungan manusia dengan ciptaan lainnya. Itu terjadi berkat kesetiaan dan ketaatan manusia pada perintah untuk mengelolah alam dengan bijak dan benar. Keutuhan itu terjadi berkat manusia taat pada larangan Tuhan untuk tidak mengkonsumsi sesuka hati apa yang tidak boleh dimakan. Relasi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama dan dengan alam ciptaan itu digambarkan sebagai sebuah kehidupan yang penuh damai, tentram dan bahagia. |
|
|
Written by Administrator
|
|
Ratusan Amplop Angpau dibagikan Seusai Misa Imlek
Ratusan angpau dibagikan kepada umat seusai misa imlek di gereja Katedral St. Yosef Pangkalpinang, Kamis 7 Februari 2008. Misa perayaan Imlek di Pangkalpinang dipusatkan di gereja Katedral dan dipimpin oleh FX. Hendrawinata, Pr – Vikjen Keuskupan Pangkalpinang. Dalam kotbahnya dihadapan sekitar 500 umat yang hadir, pastor Hendra menyatakan bahwa imlek merupakan tradisi masyarakat Tionghoa dalam merayakan musim semi. Dan misa perayaan imlek ini, merupakan perayaan inkulturasi dalam gereja Katolik yang sangat menghargai kebudayaan setempat. Kemeriahan misa imlek di Pangkalpinang ini sudah terasa sejak awal perarakan. Anak-anak TK St. Theresia Pangkalpinang dengan pakaian ala Tionghoa mempersembahkan tarian diiringi lagu pembukaan diikuti dengan PA, para petugas lektor dan pemazmur serta Imam pemimpin misa. Berbagai lagu bernuansa mandarin juga dilantunkan dalam persembahan dan komuni oleh mudika yang saat itu bertugas sebagai kelompok koor. Dalam persembahan juga ada garu/hio menyala dan diletakkan di depan altar. ”Dalam kesempatan misa ini, hio dipergunakan untuk mengantikan wiruk (dupa). Kalau dalam tradisi Tionghoa, hio dipersemahkan pada para leluhur, dalam misa ini dipersembahkan kepada Allah sendiri yang terjelma dalam diri Yesus Kristus yang kita imani,” ungkap FX. Hendrawinata. |
|
|
Written by Administrator
|
SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2008 (Dibacakan pada Hari Minggu Prapaskah II, 17 Februari 2008) (Bacaan Ekaristi: Kej 12: 1-4°; Mat 17: 1-9; 2 Tim 1: 8b-10) Menjadi “Citra Allah” terhadap Lingkungan Hidup(Tuhan Betapa Bahagianya Kami Berada di Tempat ini) Saudara-saudariku terkasih dalam Tuhan Yesus Pada hari Minggu Prapaskah Pertama yang lalu, kita telah diajak untuk merenungkan kembali Rencana Karya Penciptaan Allah terhadap seluruh ciptaanNya. Allah telah menciptakan alam semesta dalam keadaan sungguh amat baik (bdk. Kej 1:31) dan menata dengan hukum alam sehingga terjalin hubungan yang harmonis antar seluruh ciptaan. Allah kemudian menciptakan manusia menurut rupa dan gambarNya dan memberi tanggungjawab kepada manusia untuk menjaga keutuhan ciptaanNya. Maka pertanyaan yang muncul adalah bagaimana manusia menampilkan diri sebagai gambar Allah terhadap alam lingkungan ciptaan Tuhan? |
|
|
Written by Administrator
|
|
PERATURAN TENTANG PANTANG DAN PUASA Pada hari Rabu Abu, kita akan menerima abu sebagai tanda bahwa kita memasuki masa prapaska. Masa ini adalah masa dimana kita diajak oleh Bunda Gereja untuk bertobat dan memperbaiki kehidupan rohani, kita diajak untuk berpuasa dan berpantang selama 40 hari masa prapaskah ini. Berikut ini penjelasan sedikit mengenai puasa dan pantang. I. Pengertian - Pantang berarti menahan diri dari makan daging atau salah satu jenis makanan tertentu yang telah ditentukan secara pribadi atau bersama sama. Penentuan pantang ini harus juga masuk akal dalam pengertian : kalau orang tidak pernah atau jarang sekali makan daging, jangan lagi menentukan bahwa untuk pantang tidak makan daging. Dalam hal ini, kiranya ditentukan untuk pantang satu jenis makanan lain yang biasa dimakan sehingga jelas pantangnya.
- Puasa berarti usaha untuk menahan diri yaitu untuk tidak makan kenyang 3 kali sehari. Ini berarti selama masa prapaskah orang dapat makan kenyang hanya sekali. Umpamanya : sudah ditentukan bahwa makan kenyang hanya pada makan siang, maka orang tetap dapat makan pagi dan malam tetapi tidak sampai kenyang.
|
|
|
Written by Administrator
|
|
SURAT GEMBALA PRAPASKA 2008 (Untuk dibacakan pada Hari Rabu Abu, 06 Februari 2008) “KESEJATIAN HIDUP DALAM PEMBERDAYAAN LINGKUNGAN HIDUP” Saudara-saudari yang saya cintai… Hari ini, kita memulai masa Tobat kita yang ditandai dengan penerimaan Abu. Penerimaan Abu merupakan tanda peringatan bagi kita untuk bertobat, memeriksa bathin dan berpantang dan berpuasa. Tetapi, dari mana kita memulainya? Apa yang bisa menjadi ukuran bagi kita untuk memulai pemeriksaan batin atau berpantang dan berpuasa? Jawabannya jelas! Tema APP 2008 tentang Kesejatian Hidup Dalam Pemberdayaan Lingkungan Hidup menjadi inspirasi bagi kita agar masa pra paskah ini sungguh menjadi masa tobat yang berdaya guna. Pemilihan tema ini didorong oleh munculnya kesadaran akan masalah rusaknya lingkungan hidup, seperti yang baru saja dibahas dalam pertemuan Internasional pada bulan Desember 2007 di Bali. Kerusakan lingkungan ini menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia sekarang dan generasi yang akan datang. Disadari pula bahwa kerusakan alam ini disebabkan oleh ulah manusia, seperti eksploitasi alam yang sewenang-wenang dan tak terkendali dan lain sebagainya. Kesadaran ini mendorong munculnya upaya-upaya konkrit untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan hidup ini. Sebagai orang beriman, kita ingin menjadikan masa tobat ini sebagai masa khusus dan istimewah untuk mendalami dan mengerti kehendak Tuhan yang tersembunyi di balik persoalan-persoalan lingkungan hidup yang kita alami setiap hari (Bdk. Ef 3, 9), sehingga dengan demikian kita dapat mengenal dan menyadari salah dan dosa kita, untuk bertobat. |
|
|